Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah kapan dan dimanapun kita berada, dengan senantiasa seoptimal mungkin mengerjakan segala perintah-Nya, meninggalkan segala larangan-Nya, dan mengorbankan sebagaian kesenangan kita untuk memperjuangkan risalah-Nya.
Pengorbanan merupakan
aktivitas yang dilakukan oleh setiap manusia, tidak ada seorang pun dalam
hidupnya yang tidak pernah melakukan pengorbanan. Ada yang mengorbankan
sebagian besar waktunya, pergi pagi pulang petang, untuk memperoleh uang. Begitu
pula ada yang mengorbankan uangnya untuk mendapatkan jabatan, pekerjaan, atau
kesenangan yang lain.
Pengorbanan dapat
dikatakan benar menurut akal sehat jika memenuhi dua syarat:
Pertama,
jika mashlahat yang ingin kita raih lebih besar daripada sesuatu yang kita
korbankan. Adalah merupakan kebodohan kalau ada yang mengorbankan sesuatu yang
berharga hanya untuk mendapatkan sesuatu yang hina.
Kedua, kerugian/madharat
yang akan kita tanggung lebih besar daripada apa yang kita korbankan.
Dalam pandangan Islam,
tidak ada kemashlahatan yang lebih besar selain dengan menta’ati Allah guna
meraih ridho-Nya. Tidak ada
kemudlorotan dan kecelakaan yang lebih besar dari pada mendapatkan murka Allah
SWT. Tolok ukur keberislaman seseorang adalah sejauhmana pengorbanan yang bisa
dia berikan demi menjalankan dan memperjuangkan tegaknya syari’ah Allah SWT,
juga sejauh mana pengorbanan yang mampu dia berikan untuk menghindari
larangan-Nya.
Sebuah pengorbanan
yang luar biasa, dicontohkan oleh keluarga Ibrahim a.s. Bagaimana tidak, putra
yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan kelak
menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda
yang cerdas, tampan, dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah Swt untuk
disembelih. Nabi Ibrahim dan Hajar bersedia mengorbankan anaknya, Ismail
mengorbankan nyawanya semua dilakukan hanya untuk mengabdi kepada Allah Swt.
Pengorbanan untuk
menghindari kemurkaan Allah juga dicontohkan oleh Nabi Yusuf as. Beliau harus
rela dipenjara hanya karena tidak mau berbuat maksiyat dengan wanita cantik dan
terhormat, yakni majikannya sendiri. Allah abadikan kisah ini dalam Al Qur’an:
قَالَ
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ
عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai
daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari
padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan
mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (Qs. Yusuf: 33)
Dua kejadian tersebut merupakan cermin bagi
kita untuk berkaca, sudahkah kita mengorbankan sebagian kesenangan kita untuk
taat kepada Allah? Sudahkah kita siap menerima resiko untuk menghindari perbuatan
maksiyat kepada Allah? Bandingkan pengorbanan kita kepada profesi, jabatan dan
pekerjaan kita dengan pengorbanan kita kepada Allah.
Setiap hari kita bisa memberikan 1/3 dari
waktu kita bahkan lebih, tenaga, pikiran dan berbagai potensi kita untuk
mendapatkan kemashlahatan berupa gaji atau penghasilan lainnya. Apakah gaji dan
imbalan yang kita terima telah setimpal dengan pengorbanan yang kita berikan
kepada profesi kita?
Jika kita sudah merasa puas dengan yang
kita peroleh dari pengorbanan kepada profesi kita, mungkinkah kita dapat menikmati penghasilan
dan fasilitas yang kita dapatkan bila Allah mencabut satu saja kenikmatan-Nya
dari kita? Mencabut kemampuan lidah kita untuk merasa, atau mencabut kemampuan
telinga atau mata kita?
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
"Katakanlah: 'Dia-lah yang menciptakan
kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.' (Tetapi) amat
sedikit kamu bersyukur." (Qs. Al-Mulk: 23)
Kalau untuk mendapatkan penghasilan dan
fasilitas didunia kita bisa mengorbankan waktu, tenaga, & pikiran kita,
padahal yang kita dapatkan itupun belum tentu bisa kita nikmati kalau Allah
mencabut saja salah satu fungsi organ tubuh kita, maka sungguh sangat logis
jika seorang muslim mengorbankan apa saja untuk ta’at kepada Allah SWT, karena
apa yang dikorbankan itupun hakikatnya adalah pemberian Allah, dan Dia akan
menggantinya, disamping itu Allah menyediakan balasan yang jauh sangat lebih
besar, bahkan dari dunia dan isinya sekalipun. Dalam hadits qudsy Allah
berkata:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ،
مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ.
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ:اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ
لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ} [السجدة: 17] "
"Aku telah
siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh, kenikmatan yang tiada mata yang
pernah menyaksikannya, tiada telinga yang pernah mendengarnya, dan tiada pernah
terbetik dalam hati manusia. " Abu Hurairah r.a
berkata: Bila kalian mau, silahkan baca
firman Allah: "{Tiada seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata}"
(Muttafaqun 'alaih)
Pantaskah kita merasa ringan dalam menjalani profesi pekerjaan
kita, namun merasa berat untuk menjalankan aturan-aturan Allah SWT, merasa
berat membela dan memperjuangkan tegaknya syari’ah-Nya dalam kehidupan kita
ini. Padahal Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ
لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
"Hai orang-orang
yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu
turuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata
bagimu." (Qs. Al Baqarah: 208)
Berkenaan dengan ayat ini Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya
menyatakan:
يَقُولُ تَعَالَى آمِرًا عِبَادَهُ
الْمُؤْمِنِينَ بِهِ الْمُصَدِّقِينَ بِرَسُولِهِ: أنْ يَأْخُذُوا بِجَمِيعِ عُرَى
الْإِسْلَامِ وَشَرَائِعِهِ، وَالْعَمَلِ بِجَمِيعِ أَوَامِرِهِ، وَتَرْكِ جَمِيعِ
زَوَاجِرِهِ مَا اسْتَطَاعُوا مِنْ ذَلِكَ.
"Allah Ta'ala
memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan percaya dengan para
utusan-Nya, agar dengan sekuat daya dan upaya mereka mengamalkan seluruh ikatan
Islam, dan syari'atnya. Hendaknya mereka mengamalkan seluruh perintah dan
meninggalkan seluruh larangan segenap kemampuan mereka"
Semoga Allah swt menjadikan kita orang-orang yang sanggup dan senang
berkorban untuk mentaati dan memperjuangkan semua perintah-Nya, menguatkan kita
dalam meninggalkan semua larangan-Nya, dan menjadikan kita ridho dengan segala
ketentuan-Nya.
Disampaikan Oleh: Muhammad Nasyiruddin (Staf IKADI Aceh Singkil)

0 komentar:
Posting Komentar