Imam al-Ghazali(w. 505 H), dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin, 2/74 menyatakan,
طُوبَى
لِمَنْ إِذَا مَاتَ مَاتَتْ مَعَهُ ذُنُوبُهُ وَالْوَيْلُ الطَّوِيلُ لِمَنْ
يَمُوتُ وَتَبْقَى ذُنُوبُهُ مِائَةَ سنة ومائتي سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرَ يُعَذَّبُ
بِهَا فِي قَبْرِهِ ويسئل عنها إلى آخر انقراضها
"Sungguh
beruntung orang yang jika mati maka mati juga dosa-dosanya. Dan celaka
seseorang yang mati dan dosa dosanya tetap (mengalir) seratus tahun, dua ratus
tahun atau lebih, dia disiksa dikuburnya karenanya (dosa yang masih mengalir)
dan dimintai pertanggungjawaban tentangnya hingga berakhirnya dosa tersebut.”
Pernyataan Imam Al
Ghazali ini sesuai dengan firman Allah swt:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا
وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
"Sesungguhnya
Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka
kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala
sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lawh Mahfudz)." (QS. Yâsîn [36]: 12)
Ketika membahas ayat ini, Imam Al Baydlowi
(w. 685H), dalam tafsirnya, Anwârut
Tanzîl wa Asrârut Ta’wîl, juz 4, hal. 264, menyatakan:
وَنَكْتُبُ
مَا قَدَّمُوا مَا أَسْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالطَّالِحَةِ.
وَآثَارَهُمْ الْحَسَنَةَ كَعِلْمٍ عَلَّمُوْهُ وَحَبِيْسٍ وَقَفُوْهُ، وَالسَّيِّئَةَ
كَإشَاعَةِ بَاطِلٍ وَتَأْسِيْسِ ظُلْمٍ
Dan Kami menuliskan apa-apa yang telah mereka lakukan dari
amal-amal shalih dan keji. Dan (menulis) bekas mereka yang baik seperti ilmu
yang mereka ajarkan dan rumah yang mereka waqafkan, dan (menulis) bekas mereka
yang buruk seperti menyiarkan kebathilan dan peletakan dasar kedzaliman.
Rasulullah saw juga menegaskan:
وَمَنْ
سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ
عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ
شَيْءٌ
“Dan
barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri
tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat
baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa
mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.” (HR. Muslim).
Diantara
maksiyat termudah, tanpa banyak biaya dan tenaga, yang dosanya terus mengalir
setelah meninggal, adalah maksiyat yang dilakukan oleh lidah manusia. Hanya
bermodal ucapan yang berisi propaganda buruk terhadap Islam, propaganda buruk
terhadap ajaran Islam, isu miring terhadap syari’ah Islam, atau ucapan yang
membuat orang lain ragu-ragu terhadap ajaran Islam, membuat orang ragu-ragu
untuk menyokong dan memperjuangkan Islam, atau bahkan menghalangi perjuangan
penegakan ajaran Islam, atau terbengkalainya penerapan syari’ah Islam, kalau
ini yang keluar dari lidah seseorang, sudah cukup untuk mengalirkan dosa kepada
orang yang mengucapkannya, bahkan ketika orang tersebut sudah meninggal dunia
sekalipun, selama masih ada orang yang terpengaruh dengan ucapannya.
Allah
menyatakan dalam surah An-Nahl ayat 24:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا
أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?" Mereka menjawab:
"Dongeng-dongengan orang-orang dahulu".
Mungkin lidah
dengan mudah mengucapkan sesuatu yang melecehkan Islam tanpa diperhitungkan
bahwa hal itu berat disisi Allah, mudah mengatakan bahwa hukum syari’ah itu
sudah kuno, mudah mengatakan bahwa kegemilangan umat ketika mereka hidup diatur
dengan Islam itu hanya dongengan belaka. Sungguh ucapan ini mirip dengan apa
yang diceritakan Allah dalam surat An Nahl ini, menganggap Al Qur’an hanya
dongengan orang-orang dahulu. Kepada mereka Allah swt berfirman:
لِيَحْمِلُوا
أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ
يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
"(Ucapan
mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada
hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak
mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah
dosa yang mereka pikul itu." (QS. An-Nahl:
25)
Rasulullah
saw, juga mengabarkan:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ
يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.
“Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu
kata yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jaraknya antara
timur dan barat." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a)
Aliran dosa ini akan lebih awet lagi bila
tidak sekedar diucapkan, namun ditulis, disebar dan dipropagandakan, baik lewat
buku, koran, majalah maupun lewat facebook, blog, twitter, maupun membuat film
dan menguploadnya ke youtube. Berkata Al Hâfidz al Mundziry (wafat 656 H) dalam
kitabnya At Targhîb wat Tarhîb (1/62)
ketika menjelaskan hal ini:
...
وَنَاسِخُ غَيْرِ النَّافِعِ مِمَّا يُوْجِبُ الْإِثْم، عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَوِزْرُ
مَنْ قَرَأَهُ أَوْ نَسَخَهُ أَوْ عَمِلَ بِهِ مِنْ بَعْدِهِ مَا بَقِيَ خَطَّهُ
وَالْعَمَلَ بِهِ
“Orang
yang menulis hal yang tidak bermanfaat yang berkonsekuensi dosa, baginya
dosanya dan dosa orang yang membacanya atau menyalinnya atau beramal dengannya
sesudahnya selama tulisan tersebut dan orang yang beramal dengannya masih tetap
ada.”
Aliran dosa ini juga
akan semakin deras dan dahsyat, jika bukan hanya diucapkan dan ditulis, namun
juga dibuatkan aturan perundang-undangannya, sehingga hal buruk yang
bertentangan dengan syari’at Islam tersebut dilakukan masyarakat secara massif,
baik dengan sukarela maupun terpaksa.
Lalu kalau sudah
terlanjur bagaimana? Tidak ada cara lain kecuali segera bertaubat, berusaha
menghapus jejak dosa tersebut semaksimal mungkin dan berlepas diri darinya,
serta berusaha membuat jejak-jejak kebaikan yang diharapkan tetap akan ada
walaupun kematian sudah menjemput, sehingga pahalanya tetap mengalir pasca
kematian.
Diantara ‘amal yang
tetap akan meninggalkan jejak yang baik, adalah ‘amal menyeru kepada Islam,
menyebarkan hidayah, mempengaruhi masyarakat agar berbuat sesuai tuntunan
syari’ah.
لَأَنْ
يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا
فِيهَا
“Sekiranya Allah
memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaraan engkau, itu lebih baik
bagi engkau daripada engkau memiliki dunia dan isinya.” (Az Zuhdu li Ibnil Mubârak, 1/484)
Ada empat keadaan manusia ketika mati, Pertama, seseorang yang meninggal
dunia, dan kebaikan dan kejahatannya telah terputus. Dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali yang telah diperbuatnya
selama hidup di dunia. Kedua, orang
yang meninggal dunia, tetapi kebaikan dan keburukannya terus berlangsung, nasib
orang ini di akhirat nanti tergantung dari timbangan amal kebaikan dan
keburukannya. Ketiga, orang yang
meninggal dunia dan timbangan kejahatannya terus membengkak, sementara pahala
kebaikannya berhenti. Keempat, orang
yang meninggal dunia, kebaikannya terus mengalir, namun keburukannya berhenti. Semoga Allah menjadikan kita bagian
dari yang keempat ini.
Disampaikan Oleh: Muhammad Nasyiruddin (Staf IKADI Aceh Singkil)

0 komentar:
Posting Komentar