Alhamdulilllah, segala puji kita panjatkan kehadirat Allah swt bahwa hingga saat ini, Allah masih memberi kita kesempatan untuk menyempurnakan pengabdian kita kepadaNya, dengan harapan mudah-mudahan segala kekurangan dalam proses pengabdian itu diampuni oleh Allah swt. Dan marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjahui segala larangannya. Mudah-mudahan juga momentum Ramadhan ini semakin memberikan kita kesadaran akan peningkatan kualitas iman dan takwa kita kepadaNya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di
Tanah Air akhir-akhir ini. Yang paling memprihatinkan adalah banjir bandang
yang terjadi di Kota Wasior, Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat. Bencana
banjir kini seolah menjadi pemandangan rutin dan biasa di negeri ini.
Belakangan banjir bahkan makin meningkat baik frekuensi maupun cakupannya.
Hampir semua bencana banjir di negeri ini terjadi akibat air sungai yang meluap
saat musim hujan. Belakangan, di Kabupaten Bojonegoro, banjir bandang pada lima
bulan terakhir di tahun 2010 sudah terjadi lebih dari 17 kali. Sebagian besar
banjir adalah karena hujan deras yang airnya tidak bisa ditampung di 23 anak
sungai Bengawan Solo akibat kerusakan hutan di bagian hulu DAS. Demikian pula
banjir yang diikuti longsor yang terjadi NTT.
Menurut Presiden SBY, penyebab banjir di
Wasior bukan pembalakan hutan liar, tetapi pengaruh alam; curah hujan tinggi
sekali dan perubahan cuaca yang sangat terasa. Namun, menurut Walhi (Wahana
Lingkungan Hidup), banjir di Wasior karena kerusakan lingkungan. Bencana itu
karena faktor alam yang rentan akibat eksploitasi oleh manusia dengan
intensitas sangat tinggi. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi, banjir bandang
tak bisa dihindari. Walhi juga menduga telah terjadi perambahan hutan di
kawasan Hutan Suaka Alam Gunung Wondiboi. Selain itu, illegal loging (pembalakan hutan secara liar). Hutan di wilayah itu
telah dibabat habis. Akibatnya, saat hujan datang, tanah tak bisa menyerap air
dan menimbulkan bencana.
Tak hanya di Papua Barat, pembabatan hutan
baik secara legal maupun ilegal juga terjadi merata di seluruh area hutan di
negeri ini. Hal itu telah berlangsung puluhan tahun. Sebagaimana diketahui,
sebelum mengalami kerusakan parah, areal hutan Indonesia termasuk yang paling
luas di dunia; sebagian besar adalah hutan hujan tropis yang kaya dengan aneka
flora dan fauna. Namun, hutan alam Indonesia mengalami penurunan luas sebesar
64 juta hektar hanya dalam kurun 50 tahun. Indonesia disebut-sebut sebagai
negara dengan tingkat deforestasi (penyusutan areal hutan) tercepat di dunia.
Penyempitan luas hutan yang luar biasa ini terutama akibat penebangan oleh
sejumlah perusahaan besar pemilik HPH.
Eksploitasi hutan oleh pengusaha HPH ini
telah mengakibatkan kerusakan hutan yang parah di Sumatera. Di Kalimantan, jika
tidak ada langkah pencegahan, diramalkan hutan di sini akan punah tidak sampai
sepuluh tahun ke depan. Kerusakan hutan yang paling parah terjadi di Pulau
Jawa, padahal rehabilitasi hutan yang rusak memerlukan waktu 10 hingga 15
tahun.
Akibatnya mudah diduga. Dengan semakin
berkurangnya tutupan hutan Indonesia, sebagian besar kawasan Indonesia telah
menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir
maupun tanah longsor.
Terkait bencana banjir dan yang serupa, di
dalam al-Quran Allah SWT tegas menyatakan bahwa berbagai kerusakan di daratan
dan di lautan lebih banyak disebabkan karena kemaksiatan manusia:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا
كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan karena ulah
(kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat
perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar-Rum
[30]: 41)
Kemaksiatan terbesar tentu saja saat
hukum-hukum Allah SWT dicampakkan manusia, tidak diterapkan dalam kehidupan.
Saat manusia berpaling dari syariah-Nya, maka kesempitan hiduplah yang bakal
mereka rasakan, di antaranya ditimpa berbagai bencana yang menimpa mereka.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً
ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari
kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaha [20]: 124).
معاشر المسلمين رحمكم الله
Islam adalah agama yang diturunkan Allah
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dengan dirinya dan dengan
manusia sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya
mencakup peraturan-peraturan yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah. Hubungan
manusia dengan dirinya mencakup peraturan-peraturan yang berkaitan dengan
akhlak, makanan, dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya mencakup
peraturan-peraturan yang berkaitan dengan mu’amalah
dan uqubat (pidana, sanksi, dan
pelanggaran). Dengan demikian Islam merupakan pedoman hidup yang sempurna.
Tentu, Islam juga mempunyai aturan dan solusi terhadap masalah bencana yang
melanda Indonesia.
Pertama: terkait korban Banjir Wasior, Pemerintah serta semua elemen
masyarakat harus segera memberikan bantuan. Kedua: Pemerintah segera
mengoreksi kebijakan pengelolaan alam di Papua Barat dan di Indonesia secara
keseluruhan yang lebih berkeadilan dan ramah sosial dan ramah lingkungan hidup.
Ketiga:
Pemerintah segera mencabut perizinan-perizinan yang telah diberikan yang
berpotensi meningkatkan bencana ekologis dan konflik dengan penduduk lokal. Keempat:
Pemerintah segera merumuskan model pembangunan di Papua yang lebih berpihak
pada kepentingan mayoritas rakyat secara merata, termasuk masyarakat penduduk
lokal yang selama ini diabaikan.
Lebih dari itu, harus selalu disadari,
ketakwaan adalah sumber keberkahan. Sebaliknya, kemaksiatan adalah sumber
bencana; baik kemaksiatan dalam bentuk pengrusakan lingkungan (pembalakan hutan
secara liar, dsb), atau kemaksiatan yang lebih besar lagi, yakni pengabaian
syariah Islam. Semua kemaksiatan itu akan menjadi faktor penyebab berbagai
bencana yang menimpa umat secara keseluruhan, tidak hanya menimpa para pelaku
kemaksiatan saja.
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah
Amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfal [8]: 25).
Maka dari itu, berbagai bencana yang datang
silih berganti sejatinya mendorong para penguasa dan rakyat negeri ini untuk
segera mencampakkan berbagai kemaksiatan mereka kepada Allah SWT, lalu
bersegera menerapkan syariah-Nya secara kaffah
dalam semua aspek kehidupan. Itulah bukti sejati ketakwaan mereka dan itulah
jalan keberkahan hidup mereka, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS al-A’raf [7]: 96)
Secara praktis, untuk mewujudkan semua itu,
hendaknya penguasa negeri ini segera menata pemerintahan secara Islami, yakni
dengan sistem Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam secara total
dalam seluruh aspek kehidupan.
Mudah-mudahan Allah SWT memberikan hidayah, taufik dan inayah-Nya
kepada kita untuk bersama-sama berjuang menegakkan Syariah dan Khilafah, agar
kerahmatan Islam lil ‘alamin bisa
terwujud dalam kehidupan kita. Amin Ya
Rabbal ‘Alamin.
Disampaikan Oleh: Muhammad Nasyiruddin (Staf IKADI Aceh Singkil)

0 komentar:
Posting Komentar