Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketaqwaan kita. Keimanan seseorang pastilah akan diuji oleh Allah swt, semakin tinggi tingkat keimanan, semakin berat pula ujian yang akan Allah berikan. Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا
آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ - وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ
الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut : 2 – 3)
Diantara jenis ujian yang Allah berikan
kepada kita adalah ujian yang
berbentuk perintah. Nabi Ibrahim a.s. diuji dengan perintah untuk meninggalkan
Hajar dan Isma’il di lembah tandus di Makkah, Hajar , istri nabi Ibrahim di uji
dengan ditinggalkan suami di tempat yang tak bertuan, dalam riwayat Bukhory
dinyatakan bahwa awalnya beliau tidak rela, selalu mengikuti Ibrahim sambil
berkali-kali bertanya:
يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا
بِهذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ
“Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami
di lembah ini, lembah yang tidak ada orang dan tidak ada sesuatupun?”
Nabi Ibrahim diam, tidak sanggup menjawab
pertanyaan istrinya, sampai akhirnya istrinya kemudian bertanya:
أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا
“Apakah Allah yang memerintahkan engkau hal ini?”
Nabi Ibrahim baru bisa menjawab, “ya”, kemudian Hajar mengatakan
إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا
“Kalau demikian (perintah Allah), maka (Allah) tidak akan
menelantarkan kami.”
Sungguh Ibrahim dan istrinya telah
membuktikan keimanan mereka kepada Allah dengan menjunjung tinggi perintah
Allah walaupun dalam pandangan kebanyakan manusia, perintah tersebut sangatlah
tidak manusiawi. Coba kita bayangkan seandainya kita yang diperintahkan untuk
meninggalkan istri dan anak yang sudah lama kita nantikan kelahirannya, bukan
meninggalkan di tempat yang dekat, namun ditempat yang jauh yakni dari
Palestina ke Makkah, bukan di tempat yang tersedia kebutuhan hidup, namun di
lembah tandus yang air pun susah dicari, akan tetapi keimanan telah merasuk ke
diri mereka, hingga dengan kemantapan hatinya Hajar mengatakan: “Kalau demikian (perintah Allah), maka
(Allah) tidak akan menelantarkan kami”
Ketika mereka lulus dari ujian ini, tidak
berselang lama turunlah ujian berikutnya yakni perintah untuk menyembelih
putranya yang sangat ia cintai. Bagaimana mungkin seorang bapak harus
menyembelih anaknya yang sangat dia cintai, padahal anaknya itu tidak melakukan
kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri
mengatakan:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffat : 106).
Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas
iman Nabi Ibrahim as. yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala
ketabahan dan kesabarannya, perintah yang sangat berat itupun dijalankan,
walaupun akhirnya Allah menggantikan Isma’il dengan domba yang besar.
Apa yang dilakukan oleh keluarga Nabi
Ibrahim a.s merupakan cermin bening untuk melihat sejauh mana kualitas keimanan
kita kepada Allah SWT. Kualitas keimanan kita dapat kita ukur dengan merenungi
sejauh mana sikap dan ketundukan kita kepada perintah-perintah Allah SWT.
Apakah kita melaksanakan shalat dengan rasa
ringan atau berat?, apakah kita mengeluarkan zakat harta kita dengan enteng
ataukah justru kita merasa rugi mengeluarkannya?, apakah kita berhaji karena
perintah Allah ataukah karena gengsi?, sudahkah kita berupaya menambah ilmu
kita setiap hari, ataukah kita hanya memberikan sisa-sisa waktu kita untuk
ilmu, itupun kalau sempat? Sudahkah kita berupaya menegakkan semua perintah
Allah dalam setiap aspek kehidupan kita?, dalam hal berekonomi, berinteraksi
sosial, termasuk perintah-perintah Allah dalam mengatur pemerintahan? Kalau
semua itu belum kita upayakan, atau kita berupaya namun asal-asalan, atau
justru mencari-cari alasan untuk tidak menjalankannya, maka marilah mulai saat
ini, kita kuatkan tekad untuk senantiasa berupaya melaksanakan semua perintah
Allah SWT dalam aspek apapun.
Sungguh, ketaatan kepada Allah dalam setiap
aspek kehidupan bukan hanya merupakan ujian keimanan, yang bila kita laksanakan
dengan sempurna akan menambah kekuatan iman kita, namun tegaknya perintah
Allah, tegaknya syari’ah-Nya juga akan menjadikan hidup ini penuh berkah.
Rasulullah bersabda:
لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الأَرْضِ، خَيْرٌ لِأَهْلِهَا
مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا
“Sungguh satu hukum yang ditegakkan dibumi lebih baik bagi
penduduknya daripada mereka diberi hujan 40 pagi.” (HR Ahmad dan An Nasa’i dari Abu Hurairah)
Disampaikan Oleh: Muhammad Nasyiruddin (Staf IKADI Aceh Singkil)

0 komentar:
Posting Komentar