Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan ketakwaan kita dalam setiap keadaan, dengan sekuat tenaga dan kemampuan kita untuk melaksanakan semua perintah Allah, dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah, karena hanya dengan ketakwaanlah semua urusan akan menjadi mudah. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah
menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At Thalaq: 4)
Sebaliknya, setiap kemaksiyatan, baik besar
ataupun kecil, akan menjadikan rusaknya kehidupan kita, hilangnya keberkahan
hidup kita, bahkan ketika kemaksiyatan itu menjadi tersebar merata, maka
kerusakannya juga merata.
Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad
hasan dari jalur 'Atha bin Abi Rabah dari Abdullah bin Umar r.a dia berkata: "Rasulullah saw menghadapkan wajahnya
ke kami dan bersabda:
يَا
مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ
أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ
"Wahai
golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan
aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya:
1.
لَمْ
تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا
فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ
الَّذِينَ مَضَوْا
Tidaklah kekejian/perzinaan menyebar di suatu kaum,
hingga mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di
tengah mereka penyakit Tha'un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap
para pendahulu mereka.
2.
وَلَمْ
يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ
الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ
Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali
mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
3.
وَلَمْ
يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ
وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا
Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka
kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena
hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan.
4.
وَلَمْ
يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ
عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ
Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah
dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain
mereka) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang
mereka miliki.
5.
وَمَا
لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ
اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan
hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah,
kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.”
Saat ini kita bisa merasakan apa yang
Rasulullah saw sampaikan dalam hadits tersebut, sebagian atau seluruhnya telah
menjadi kenyataan. Akibat banyaknya kemaksiyatan dan pelanggaran terhadap hukum
Allah, baik skala individual maupun nasional, negeri yang kaya-raya sumber daya
alamnya ini akhirnya dihuni oleh banyak sekali rakyat yang miskin. Dengan
standar kemiskinan Rp 212.000 per orang per bulan, di negeri ini masih ada 31
juta jiwa rakyat terkategori miskin[1],
disisi lain Vietnam saja standar kemiskinannya Rp 450.000 per bulan[2],
padahal beras disana lebih murah dari disini. Disisi lain, kekayaan negeri ini
semakin dikuasai asing, mereka telah menguasai 75% sektor migas, 50,6 % aset
perbankan nasional, 60-70 persen saham pasar modal, serta 60 % BUMN[3].
Disamping kemiskinan, Indonesia ternyata
juga penyebar virus mematikan HIV/AIDS tercepat di Asia Tenggara. Dari tahun
2002 hingga September 2011, perkembangan HIV/AIDS di Indonesia naik hingga 15
kali lipat[4]
(1.500%).
Sementara itu narkoba juga mencengkram negeri
ini, 6,5 juta penduduk Indonesia yang menjadi pecandu narkoba, 90% adalah
generasi muda. (Kompas, 26/7/ 1999)
Semua hal tersebut bukanlah suatu yang
mengherankan, di ujung hadits tersebut Rasulullah telah memperingatkan:
وَمَا
لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ
اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
“Dan
tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan
mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan
bencana di antara mereka.”
Segala kerusakan ini tidak akan selesai
dengan konsep yang tidak bersumber dari kitabullah, bahkan pada hakikatnya
sumber berbagai kerusakan adalah penolakan terhadap hukum-hukum Allah, baik
seluruhnya atau sebagian. Allah tegaskan hal ini dalam surat Al Hijr 89 – 91:
وَقُلْ
إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ(89)كَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى
الْمُقْتَسِمِينَ(90)الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْءَانَ عِضِينَ(91)
Dan katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan
yang menjelaskan". Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan/(azab)
kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), yaitu orang-orang yang
telah menjadikan Al Qur'an itu terbagi-bagi. (yakni ada bagian yang diimani,
dan ada bagian yang di ingkari).
Marilah kita perbaiki diri
kita, keluarga kita dan masyarakat kita, dengan perbaikan yang hakiki, yakni
berupaya sekuat tenaga menjalankan syari’ah Allah dalam kehidupan kita. Semoga
Allah SWT memberi kekuatan dan meneguhkan kemauan kita untuk melakukan upaya
ini hingga akhir hayat kita.
Disampaikan Oleh: Muhammad Nasyiruddin (Staf IKADI Aceh Singkil)

0 komentar:
Posting Komentar