Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. Karena hanya dengan keimanan dan ketaqwaan yang tercermin dengan ketundukan mutlak kita kepada Allah sajalah kejayaan dan kemuliaan akan kita raih.
Ketika perang Al Qadisiyah, Sa’ad bin Abi
Waqqash, panglima tentara Islam saat itu mengutus Rib’i bin ‘Amir menemui
Rustum, pemimpin pasukan Persia, Rustum bertanya: ”Apa maksud kedatangan kalian?”. Dengan lantang Ruba’i menjawab: “Allah mengutus kami untuk membebaskan
manusia dari penghambaan kepada sesama manusia kepada penghambaan kepada Allah
semata. Dari belenggu dunia yang sempit kepada akhirat yang luas. Dari agama
yang sesat kepada keadilan Islam”.
Pernyataan Rib’i menegaskan bahwa dorongan
penaklukan Islam bukan untuk mendapat materi, tidak satupun negeri yang
ditaklukkan Islam kemudian menjadi negeri yang menderita, justru mereka menjadi
tentram ketika hidup dibawah naungan Islam. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah
mengutus Yahya bin Sa’ad untuk membagi zakat di Habasyah/Ethiopia, ternyata
tidak ditemukan rakyat yang mau menerima zakat karena memang mereka merasa
tidak berhak menerimanya.
Satu-satunya dorongan penaklukan Islam
adalah tauhid, yakni keimanan kepada Allah berikut asma dan sifat-sifatNya.
Tauhid yang bukan hanya sekedar percaya, namun juga disertai ketundukan
totalitas pada kedaulatan Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Allah
berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي
السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ
عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masukklah ke dalam Islam secara
keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaithan, sesungguhnya
syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al Baqarah: 208)
Pada hakikatnya semua manusia adalah hamba.
Setiap orang yang hatinya bergantung penuh kepada sesuatu, agar sesuatu itu
menolongnya dan menempatkannya dalam posisi yang terhormat, berarti hatinya
telah menghamba kepada sesuatu itu, sekalipun pada dzahirnya ia adalah
penguasanya. [1]
Dalam skala individual, ada yang menjadi hamba hawa nafsunya, sebagaimana firman
Allah:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ
تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al Furqan: 43)
Tentang ayat ini Al Hasan berkata:
لَا يَهْوَى شَيْئًا إِلَّا اِتَّبَعَهُ
“Tidaklah mereka menyukai sesuatu melainkan mereka akan
mengikutinya”[2]
Bagi penghamba hawa nafsu, manfa’at dan
kesenangan duniawi adalah tolok ukurnya, sesuatu akan dipandang baik asalkan
bermanfaat menurut pandangannya. Bagi mereka pacaran, berduaan dengan lain
jenis, bahkan berzina sah-sah saja asal suka sama suka. Bagi negara yang
memakai tolok ukur ini lokalisasi perjudian, pelacuran, menjamurnya pabrik
miras juga hal biasa.
Dalam skala Nasional, kita juga masih menjadi hamba yang terjajah, An Nabhani dalam
kitab Mafahim Siyasiyyah mengatakan bahwa penjajahan adalah penguasaan politik,
militer, kultur, dan ekonomi terhadap bangsa-bangsa yang terjajah untuk
dieksploitasi.
Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan
melalui utang luar negeri yang semakin meningkat. Total bunganya saja pada 2009
sudah Rp 109,5 trilyun[3].
Dengan utang ini akhirnya mereka memaksakan kemauannya untuk menguasai sumber
daya alam Indonesia, walaupun untuk itu 1800 perda harus dihapus[4].
Di bidang kebudayaan, dengan alasan HAM,
homoseksual bisa berkembang bebas, bahkan difasilitasi, padahal homoseks adalah
kejahatan yang hukumannya adalah mati, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا
الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ
"Siapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum
Luth (homoseks), maka bunuhlah; pelaku dan objeknya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dengan sanad
shahih)
Di bidang hukum, penjajah kita usir, namun
dengan bangga justru hukum mereka yang diterapkan. Hukum juga masih berpihak
kepada pemilik modal, nenek pembantu pencuri sop buntut di rumah majikannya
berbulan-bulan ditahan walaupun belum diadili, sementara banyak koruptor masih
bisa melenggang bebas.
Lalu bagaimana agar benar-benar merdeka? Kita
akan benar-benar merdeka bila kita tidak menghamba pada hawa nafsu, tidak
menghamba pada pemimpin, bukan pula menghamba pada partai, Persatuan
Bangsa-Bangsa atau negara manapun, karena mereka semuanya serba lemah. Kita
akan benar benar merdeka bila hanya menghamba kepada yang bukan hamba, hanya
menghamba kepada Yang Maha Perkasa, yakni Allah SWT, penghambaan yang terwujud
dengan ketaatan mutlak kepada-Nya, dengan menerapkan seluruh syari’ah-Nya dalam
setiap aspek kehidupan kita. Inilah bentuk penghambaan yang benar-benar membuat
manusia, termasuk negara akan bebas merdeka. Semoga Allah membebaskan kita
semua dari semua bentuk penghambaan kepada selain-Nya.
Disampaikan Oleh: Muhammad Nasyiruddin (Staf IKADI Aceh Singkil)

0 komentar:
Posting Komentar